Showing posts with label Human Resource. Show all posts
Showing posts with label Human Resource. Show all posts

Friday, June 29, 2012

AKTUALISASI

AKTUALISASI

Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak - kanak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya. Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak - kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.
Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan berbeda - beda tergantung pada pengalaman - pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut.
Konsep diri menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. Sedangkan Congruence berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).
Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positip tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.
Lima sifat khas orang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being):
1. Keterbukaan pada pengalaman
Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positip maupun negatip.
2. Kehidupan Eksistensial
Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya.
3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.
4. Perasaan Bebas
Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan - paksaan atau rintangan - rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya.
5. Kreativitas
Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri - ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya.
Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata - mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.
Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respons secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subyektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara obyektif.
Rogers juga mengabaikan aspek - aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.
Teori Rogers ini memang sangat populer dengan masyarakat Amerika yang memiliki karakteristik optimistik dan independen karena Rogers memandang bahwa pada dasarnya manusia itu baik, konstruktif dan akan selalu memiliki orientasi ke depan yang positip. Pertanyaannya yaitu : Apakah teori ini juga akan sama efektifnya jika diaplikasikan pada masyarakat dengan budaya, dan struktur sosial serta sistem kemasyarakatan yang berbeda dengan Amerika?

BURN OUT


Semakin pesatnya perkembangan organisasi , memberikan konsekuensi meningkatnya tuntutan dalam pekerjaan . Individu dalam organisasi dituntut untuk menyesuaikan dirinya dengan perubahan – perubahan yang terkadang amat cepat terjadi. Persaingan berlangsung dengan sengit dan individu tidak dapat melepaskan diri dari tekanan yang harus dihadapi  . Apabila hal ini dibiarkan berlarut – larut , maka gangguan yang bersifat fisik ataupun psikologis akan menghadang kehidupan mereka .
Salah satu bentuk persoalan yang muncul karena tekanan akibat meningkatnya tuntutan kerja dan persaingan  yang keras di tempat kerja adalah stres . Stres merupakan ketegangan mental yang mengganggu kondisi emosional , proses berfikir , dan kondisi fisik seseorang ( Davis , dalam Fery Farhati & Haryanto FR , 1996 ) . Permasalahan baru akan muncul apabila stres muncul dalam jangka waktu yang lama dengan intensitas yang cukup tinggi  , yang akan berkibat pada kelelahan fisik dan mental yang mendera kehidupan individu dimana keadaan ini disebut sebagai  burn out . Leatz dan Stolar , dalam Fery Farhati dan Haryanto FR ( 1996 ) mengatakan bahwa burn out adalah keadaan yang meliputi kelelahan fisik , mental , dan emosional yang terjadi karena stres diderita cukup lama  , didalam situasi yang menuntut keterlibatan emosional yang  tinggi  .
Burn out sendiri merupakan fenomena baru dalam bidang psikologi  dimana baru pada sekitar tahun 1974 permasalahan burn out menjadi bahan kajian para ahli psikologi  , yaitu ketika istilah burn out  diperkenalkan pertama kalinya oleh Freudenberger  ( Corsini , 1984 ) . Semenjak itu pulalah , penelitian – penelitian baru tentang burn out ini terus dilalukan yang kemudian menjadi dasar bagi penelitian berikutnya . Penelitian –penelitian tersebut pada awalnya hanya dilakukan pada karyawan yang bekerja pada perusahaan yang bersifat pelayananan masyarakat saja , sehingga sempat pula terdapat suatu pendapat bahwa burn out  hanya terjadi pada bidang pekerjaan layanan masyarakat semata . Namun kemudian Muchinsky pada tahun 1987 mengemukakan pendapatnya bahwa burn out tidak hanya dibatasi oleh jenis pekerjaan layanan masyarakat saja , atau profesi yang digeluti , namun lebih karena terjadinya penumpukan ketegangan yang dipicu oleh rasa frustrasi seseorang pada tempat kerja ( Muchinsky , dalam Walter Staples Doyle  , 1994 )
Selanjutnya , Maslach dan Jackson ( dalam Golembiewsky , dkk , dalam Fery Farhati dan Haryanto FR , 1996 ) memberikan gambaran adanya tiga dimensi burn out  , yaitu : a) kelelahan emosional yang ditandai dengan perasaan frustrasi , putus asa , sedih , tak berdaya , dan merasa terjebak . Individu juga merasa mudah tersinggung , bahkan terkadang melampiaskan amarah tanpa alasan yang jelas. b) depersonalisasi , dengan ditandai dengan penarikan diri individu dari lingkungan sosialnya. c) rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri  , yaitu individu merasa tidak puas dengan karyanya sendiri .
Terdapat suatu kenyataan yang mengejutkan , bahwa penderita burn out  adalah orang-orang yang bersemangat , energik ,  ambisius , dan memiliki prinsip yang kuat untuk tidak menjadi gagal dan merupakan figur pekerja keras  ( Freudenberger & Richelson , dalam Feri Farhati & Haryanto FR, 1996 ) dimana ada 11 gejala yang terlihat pada penderita burn out , yaitu  :
1. Kelelahan yang merupakan proses kehilangan energi disertai keletihan 2. Lari dari kenyataan , merupakan alat untuk menyangkal penderitaan yang dialami . 3. Kebosanan dan sinisme  . Penderita merasa tidak tertarik lagi akan kegiatan yang dikerjakannya , bahkan timbul rasa bosan dan pesimis akan bidang pekerjaan tersebut . 4. Emosional  . hal ini dikarenakan karena selama ini individu mampu mengerjakan pekerjaannya dengan cepat . dengan menurunnya kemampuan mengerjakan pekerjaan secara cepat , akan menimbulkan gelombang emosional pada diri individu . 5. Merasa yakin akan kemampuan dirinya  , selalu menganggap dirinya sebagai yang terbaik . 6. Merasa tidak dihargai 7. Disorientasi . 8. Masalah psikosomatis. 9. Curiga tanpa alasan yang jelas. 10. Depresi 11. Penyangkalan kenyataan akan keadaan dirinya sendiri .
Oleh karena itu  , burn out  yang berlangsung lama akan mempengaruhi kinerja dari karyawan  . Sangat penting untuk bagi pihak manajemen  menindaklanjuti keadaan burn out  yang dialami oleh karyawannya dimana pihak manajemen perlu melakukan tindakan dukungan sosial pada karyawannya untuk membantu anggotanya keluar dari keadaan burn out yang dialaminya .
Etzion ( 1984 ) mengatakan dukungan sosial sebagai hubungan antar pribadi yang didalamnya terdapat satu atauu lebih ciri-ciri , antara lain : bantuan atau pertolongan dalam bentuk fisik , perhatian emosional , pemberian informasi  dan juga pujian . Tidak hanya terbatas pada pihak managemen semata, kebersamaan dan kebersediaan anggota kelompok yang lain juga sangat bermanfaat dalam menolong rekan timnya yang mengalami gangguan burn out ini . Hal ini ditegaskan oleh Fenlanson dan Beehr  ( 1994 )  , bahwa terdapat tiga sumber dukungan sosial di lingkungan kerja , yaitu atasan , rekan kerja , dan keluarga . Ketiga komponen inilah yang bisa menjadi “penyelamat” bagi individu yang mengalami stres , bahkan burn out ini .
Hal yang tak kalah pentingnya dalam mencegah dan menangani terjadinya burn out adalah kemampuan individu untuk mengenali gejala awal  dari burn out serta kemauan yang kuat untuk bisa memenejemeni stres pribadinya .
Untuk membantu menangani stres ataupun burn out  didalam lingkungan kerja , diperlukan sebuah metode yang mudah dipelajari , namun efektif  dalam managemen stres  , dimana salah satunya adalah metode relaksasi. Seperti halnya komputer , maka otak manusia adalah sebuah “ maha mesin super “ yang menakjubkan  , dimana tersimpan begitu besar program –program yang menyimpan kelebihan kita , yang seringkali tanpa kita sadari . Sebagaimana komputer , maka otak kita akan merekam segala pengalaman indrawi kita untuk kemudian diterjemahkan sebagai perilaku kita .
Ada kalanya , pengalaman kita yang buruk ikut terekam kedalam otak kita sehingga kita melakukan perilaku yang kontra produktif . Metode rileksasi , adalah salah satu metode yang bisa digunakan dalam rangka managemen stres , dimana metode ini relatif mudah , dan dapat dilakukan sendiri dengan terlebih dahulu mendapatkan pelatihan dari orang yang ahli dalam metode ini .
Pelatihan adalah proses pendidikan jangka pendek yang mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisir , yang mana anggota tim mempelajari pengetahuan dan keterampilan teknis untuk tujuan tertentu ( Sikula , dalam Moh  As’Ad , 2000 ) . Selain dari yang dimaksud diatas , tarining dimaksudkan untuk mempertinggi kerja karyawan dengan mengembangkan cara-cara berpikir dan bertindak yang tepat serta pengetahuan tentang tugas pekerjaan , atau menambah ketrampilan karyawan .
Menurut Dale Yoder ( dalam Moh As’ad , 2000 ) agar training dan pengembangan dapat berhasil dengan baik , maka harus diperhatikan delapan faktor berikut ini :
1.      Ciri khas manusia secara unik 2.      Hubungan dengan analisa Jabatan 3.      Motivasi 4.      Partisipasi yang aktif 5.      Pemilihan trainee 6.      Pemilihan Trainer 7.      Pelatihan Trainer 8.      Metode pelatihan .
Hal ini sangat penting diperhatikan , karena ke delapan faktor tersebut memiliki andil yang sangat besar dalam keberhasilan pelaksanaan kegiatan pelatihan , dalam hal ini adalah pelatihan relaksasi bagi karyawan
Terapi relaksasi, merupakan terapi yang sudah berumur sangat tua ,yang seringkali dianggap sebagai suatu praktik ajaran agama tertentu ., dimana di India diakui bahwa terapi rileksasi sudah digunakan oleh Budha Gautama pada abad 4 –5 SM . Terapi relaksasi merupakan suatu terapi yang relatif aman , tanpa efek samping ,dan relatif mudah untuk dilakukan dimanapun , dan kapanpun . Pada saat pertama kali, alangkah lebih baik apabila ada bimbingan dari orang yang ahli dalam metode ini . hal ini perlu mengingat bahwa beberapa orang tidak terbiasa atau takut untuk masuk ka dalam alam relaksasi
Pada dasarnya terapi relaksasi terbagi menjadi 2 kelompok metode terapi , yaitu :
1.      Terapi relaksasi progresif 2.      Terapi relaksasi autogenic
Prinsip utama dari terapi relaksasi progresif adalah bahwa dengan sengaja kita melemaskan semua otot kita , kelompok demi kelompok , kita dapat membebaskan diri dari ketegangan . Adapun terapi relaksasi autogenic adalah  “ berbicara “ dengan tubuh kita sendiri , untuk mengubah ketegangan yang dialami  menjadi suatu perasaan relaks  , yaitu dengan mengatur sendiri otot kita untuk benar-benar mersa relaks .Relaksasi Autogenic juga dikenal sebagai “ wicara tubuh secara hipnotis “ . Suatu metode yang benar dan ilmiah untuk membantu karyaan memanagemeni emosi serta perilakunya sendiri sebagai individu atau senagai anggota team .
Pelaksanaan pelatihan relaksasi yang akan dilaksanakan oleh tenaga profesional , akan  dapat membantu perusahaan untuk menemukan karyawannya yang mempunyai kecenderungan untuk menderita burn out , sehingga dapat ditangani secara cepat dan tepat , yang pada akhirnya akan membantu perusahaan meningkatkan kembali produktivitas karyawannya .Demikian juga untuk karyawan , akan dapat dibantu untuk keluar dari permasalahan yang dihadapinya ,sehingga mempunyai suatu kemampuan baru untuk memenejemeni emosi serta mampu menerima hubungan interpersonals secara positif .
USULAN PENANGANAN BURN OUT
Mungkin kita berpikir bahwa dengan memberikan ijin kepada karyawan untuk mengambil cuti , maka sekembalinya mereka dalam pekerjaan akan dapat menambah produktivitas .Pemikiran tersebut tidak salah , meskipun tidak benar secara keseluruhan . Dalam sebuah literature, disebutkan bahwa efek dari liburan hanya akan berlangsung maksimal selama 2 minggu, untuk kemudian akan kembali pada kondisi stress awal . Pun juga demikian bila pendekatan terapi relaxasi dilakukan .Dalam penelitian saya , ditemukan bahwa pendekatan terapi relaxasi dan juga olahraga dapat membantu mempertahankan kondisi prima karyawan dengan burn out lebih lama . Jadi, olahraga dapat berguna untuk membangun ketahanan terhadap stress bahkan burn out di dalam pekerjaan .Bagaimana menurut anda ? (budi santoso)

MENGENANG KEBAIKAN ORANG LAIN

MENGENANG KEBAIKAN ORANG LAIN
 Dalam bingkai Perjalanan kehidupan kita, tentu saja banyak orang yang pernah datang dan pergi, singgah lama atau sesaat menetap yang tentuanya telah menghiasi dan mewarnai kehidupan kita. Mungkin ada yang muncul selintas atau bahkan ada yang begitu membekas dalam relung kalbu sanubari kita.
Luangkan waktu tuk renungkan sejenak, ada yang telah lama berjalan beriringan dengan berjuta Memori mengisi setiap waktu, tetapi tak disadari arti kehadirannya. Ada pula yang begitu jauh di mata, sedangkan wujudnya  begitu melekat di hati. Ada juga yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada menorehkan titik apapun.
Setiap orang yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan potongan-potongan puzzle yang membentuk sebuah lukisan catatan sejarah kehidupan kita. Gambaran itu sebenarnya telah terbentuk, hanya saja tak pernah selesai. Atau kita salah lihat, sehingga seringkali tak bisa dinikmati keindahan karyanya.
Belajarlah untuk memahami dan mengenang orang-orang yang pernah hadir dalam hidupkita.
Kenanglah seluruh jasa dan kebaikan mereka serta kebaikan yang mungkin  tersembunyi di balik tabir kekecewaan sekalipun. Siapa sajakah mereka ?
Mereka adalah orangtua yang kita sayang dan kasihi, guru-guru yang begitu sabar membimbing dan memberikan ilmunya, atasan bawahan rekan kerja yang selalu menghiasi manisnya kehidupan pekerjaan dimana kita berkarya, sanak dan kerabat yang memahami sebuah persaudaraan, teman serta sahabat-sahabat yang begitu mewarnai kehidupan kita.
Juga tiada salahnya kita mengenang mereka yang pernah anggap musuh dan pengkhianat atau bahkan orang yang melukai hati dan menggoreskan luka begitu dalam sekalipun. Atau yang  tak pernah kita tahu nama dan wajahnya. Bagaimana pun mereka telah turut andil memahat pribadi kita menjadi lebih baik; menyapukan tinta pada lukisan kehidupan kita; menyiangi tanaman jiwa kita. Kenanglah mereka dalam genangan cinta yang tak bertepi. Hanya dalam tatapan cintalah kita bisa memandang indahnya kehidupan ini. Karena tiada secuilpun hidup yang perlu disesali, maka hanya cinta dan kasih sayanglah jawabannya.
Percayalah, karena orang yang bijak adalah orang yang tahu benar arti mengenang kebaikan dan jasa orang-orang dalam hidupnya, bukan !
(Muhammad Yunus)

Seberapa Pentingnya Tujuan Bagi Kita ?


Hidup menyodorkan terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawab, tak  sedikit orang termasuk diri kita mencari tahu apa tujuan hidup ini. Sebagian memikirkannya keras-keras, namun jawaban yang dirumuskan tak jua menentramkan hati. Sebagian yang lain merenungkannya dalam nurani dalam-dalam, namun sang pikiran masih penuh berjuta tanya.
Ada orang yang mengaku telah  menemukan dalam akal dan budi hatinya, namun mereka kehilangan itu saat harus melewati hidup sehari-hari. Benarkah tujuan hidup ini bisa ditemukan dengan memikirkannya keras-keras, atau merenungkannya dalam-dalam? Bukankah begitu banyak orang merasa tak perlu sibuk mencari tahu apa jawabannya. Bagi mereka, menjalani hidup 
sebaik-baiknya, menikmati setiap detik dengan ketentraman pikiran dan kerendahan hati adalah lebih dari cukup ketimbang setumpuk kalimat jawaban dan pernyataan. Tujuan hidup tak berada di balik kata-kata - seindah apapun kata itu digoreskan - melainkan dalam hidup itu sendiri yang kita temukan sewaktu kita sungguh-sungguh menjalaninya.

Terbetik pertanyaan, seberapa penting arti tujuan dalam kehidupan kita? Pabila kita pahami lebih dalam sebenarnya tujuan bukan hanya agar kita memperoleh apa yang kita inginkan, 
tujuanpun akan membentuk diri kita. Dan lebih dari itu, tujuan akan mengisi hidup kita dengan makna-makna. Perpaduan antara harapan dan semangat untuk meraihnya itulah nilai sebuah tujuan. Rangkaian perjalanan sebuah tujuan adalah niat kita untuk menggapai sesuatu bersemilah harapan-harapan, harapan akan menghasilkan keyakinan dan kekuatan yang dasyat dari dalam diri. Kekuatan yang dasyat pastilah berbuah benih ketekunan, benih keberanian, dan benih kedaya-tahanan.

Mulailah untuk hargailah setiap detak waktu yang berputar, tanamlah bibit-bibit tujuan disetiap lahan harapan dan berilah ia pupuk benih-benih yang dihasilkan oleh harapan hingga 
suatu saat kita kan memperoleh buah manis atas hasil jerih upaya yang telah kita perbuat. Karena memang tujuan yang kita semai akan memberikan segala yang kita inginkan. Ibarat mengendarai sebuah kendaraan, tujuan adalah bagaikan peta yang memberikan arah kemana kita mesti melangkah dengan tujuan akhir yang pasti. Oleh karena itu, tak salah bila kita mulai untuk menata dan menjalin kembali dengan erat teman yang memang memiliki tujuan yang pasti dan membantu kita menggapai keberhasilan dan  kebahagiaan yang kita inginkan.

Ketika dikiaskan dalam sebuah ilustrasi, dalam bermain hokey atau sepak bola, kita membutuhkan gol untuk menentukan sebuah kemenangan. Gol adalah upaya yang berhasil. Tanpa gol, tak ada kemenangan dan kejayaan. Dalam hidup pun demikian. Kita harus menetapkan tujuan untuk diri kita sendiri entah apapun pekerjaan yang kita tekuni, apakah itu sebagai praktisi HRD, Terapis, Trainer, Akuntan, Sales, Marketer, Dokter, Psikolog, atau bahkan sebagai kepala rumah tangga dan Perusahaan sekalipun tentunya masing-masing memiliki tujuan yang beragam. Buku-buku manajemen waktu mengingatkan kita  bahwa penentuan tujuan adalah langkah pertama mendapatkan kontrol seiring dengan berjalannya proses. Termasuk banyak buku agama yang kita yakini menjabarkan begitu luas arti kata sebuah tujuan di kehidupan alam dunia ini.

Tujuan membentuk rencana kita.  Tujuan mengerahkan energi kita  dan memfokuskan sumber daya kita. Kita perlu menggagendakan tujuan kita dalam catatan. Paling tidak, kita harus menetapkan dua perangkat tujuan: satu untuk karier bisnis kita, dan satu untuk lagi untuk kehidupan kita. Tujuan kita harus mencakup 25, 10, 5 dan 1 tahun jadwal waktu. Tujuan satu tahun 
harus dipecah ke dalam langkah-langkah selama 12 bulan. Langkah bulanan harus dirinci ke dalam langkah mingguan. Ciptakan daftar tugas tahunan, bulanan, mingguan, dan harian. 
Tuliskan dalam daftar tugas kita berbagai hal yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan. Cantumkan dalam daftar tugas harian kita tindakan tertentu yang mendekatkan kita kepada tujuan jangka panjang. Hal ini membuat kita bisa memiliki target. Jika kita tidak memiliki tujuan, kita takkan mampu meraih apapun. Tujuan mengharuskan adanya target.

Seperti Pak Covey pernah berkata, ”Mulailah dengan tujuan akhir” artinya mari kita siapkan catatan-catatan  tujuan, sasaran, serta target kita dahulu sebelum pikiran dan langkah kaki
menelurusi aktivitas  di segala arah tanpa tujuan akhirnya. Evaluasi apa yang telah kita kerjakan dan perbaikilah dengan cermat dan efektif tujuan2 yang ingin dicapai di tahun berikut. Dan
berusaha tuk selalu hadirkan passion, love, spirit, patience, sincerity, and pray to GOD di setiap singsingan lengan dan derap langkap mencapai tujuan. Selamat membuat catatan tujuan serta
Sasaran Anda...... dan sukses! (catatan : Mohamad Yunus)